Senin, 16 April 2012

perang nuklir didepan mata, menguak kekuatan nuklir AS dan Israel

Sepak terjang AS terhadap persoalan nuklir Iran, seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa negara adidaya itu sangat peduli dengan keamanan dunia yang terancam dengan adanya persenjataan nuklir. Tudingan AS bahwa program nuklir Iran berbahaya karena akan digunakan untuk membuat senjata nuklir, membuat dunia internasional tutup mata dan lengah, bahwa AS sendiri sebenarnya sedang mengembangkan program nuklirnya dan menargetkan hasil ratusan hulu ledak nuklir tiap tahunnya.
Begitu juga dengan sekutu dekatnya Israel, program nuklir negara ini bahkan tidak pernah diributkan AS seperti AS meributkan program nuklir Iran. Sejumlah sumber menyebutkan program nuklir AS dan Israel, jelas-jelas ditujukan untuk pertahanan yang artinya cenderung digunakan untuk membuat senjata pemusnah massal bukan untuk tujuan damai.
Artikel ‘Perang Nuklir di Ambang Mata, Mengungkap Kekuatan Nuklir AS dan Israel’ ini, mencoba mengungkap sejauh mana AS dan Israel sudah mengembangkan kekuatan nuklirnya, apa agenda tersembunyi mereka, termasuk kisah dramatis seorang ilmuwan nuklir Israel membongkar skandal nuklir negaranya. Karena panjangnya artikel ini, maka kami akan menyajikannya secara bersambung setiap hari. Semoga memberi pencerahan bagi kita semua, bahwa ada ancaman besar bagi umat manusia bernama nuklir, jika penggunaannya diselewengkan dan berada ditangan pihak-pihak yang salah dan berambisi untuk menguasai dunia. Akhir kata, selamat membaca…..
Program Nuklir AS, Targetnya 500 Hulu Ledak Nuklir per Tahun

Jika dihitung-hitung, tak ada negara yang begitu besar menyumbangkan kerusakan dan kehancuran kehidupan manusia seperti Amerika. Salah satu sumbangannya adalah, selain perang, pembangunan fasilitas nuklir terbesar di dunia.
Sejak peristiwa 11 September, Amerika seolah harus mengamankan dirinya seaman mungkin. Paman Sam harus memberangus setiap kemungkinan yang bisa mengancam dirinya. Persenjataan pun dikembangkan sekuat mungkin dan secanggih-canggihnya. Dan nuklir menjadi salah satu pilihan yang tak bisa dihindarkan.
Sebuah tempat di wilayah Nevada hingga terusan sungai Savannah di South Carolina bisa jadi kini adalah daerah paling berbahaya. Pasalnya, nama daerah ini disebut-sebut akan menjadi kompleks percobaan senjata nuklir yang mulai digencarkan kembali oleh Presiden Goerge W. Bush.
Proposal yang diajukan oleh Bush pada kongres Amerika tersebut tak
tanggung-tangung besarnya. Senilai 320 juta dolar Amerika atau sama dengan hampir 280 milyar rupiah, dianggarkan untuk pembangunan sumber plutonium baru. Ini belum termasuk 40 juta dolar yang ditujukan untuk pembangunan pabrik yang diharapkan akan menghasilkan 500 rudal berhulu ledak nuklir setiap tahunnya. Ditambah dana sebesar 135 juta dolar untuk produksi tritium, salah satu bahan nuklir yang sudah lebih dari dua dekade terakhir tak lagi diproduksi oleh dunia.
Menurut salah seorang pengamat teknologi nuklir yang juga seorang ilmuwan, Robert Civiak, pemerintahan Amerika setidak-tidaknya akan mengeluarkan dana sebesar 2,5 trilyun dolar mulai tahun 2001 hingga tahun 2008 untuk program nuklirnya.
“Setidaknya pemerintah Amerika, dengan dana sebesar itu, ingin memproduksi 500 pucuk hulu ledak nuklir setiap tahunnya,” ujar Civiak menganalisa.
Lebih lanjut Civiak mengatakan, jika hal itu terjadi, maka Amerika telah
melanggar Perjanjian Moskow yang berisi tentang pembatasan jumlah produksi senjata nuklir dengan Rusia. Perjanjian Moskow yang telah disepakati dengan Rusia tersebut telah menghancurkan sekitar 60% senjata nuklir di seluruh dunia.
Kebijakan Nuklir AS: Menyerang Daripada Diserang

Percobaan nuklir sebenarnya telah dilarang oleh dunia internasional sejak tahun 1992. Bahkan, pascaPerang Dingin, sebagian besar fasilitas produksi nuklir besar di dunia telah ditutup. Salah satu yang dimiliki oleh Amerika di Rocky Falts, Denver misalnya telah resmi dibekukan. Begitu juga beberapa fasilitas nuklir milik Uni Soviet. Namun menurut kabar yang beredar, sejak peristiwa September 2001 pemerintahan Bush telah mengaktifkan kembali, bahkan mengeluarkan izin percobaan nuklir bawah tanah beberapa waktu lalu. Tuduhan ini ditampik oleh salah seorang pejabat Badan Keamanan Nuklir Amerika, Linton Brooks.
Meski menampik, pihak Badan Keamanan Nuklir Amerika mengakui bahwa saat ini sedang digodok kembali ide-ide pengembangan nuklir. “Masa depan tak pernah bisa diprediksi, dan kami harus siap memberikan respon yang cukup,” ujar Brooks dalam wawancaranya dengan The Cronicle.

Ia menegaskan bahwa rencana pengembangan nuklir ini tak pernah melanggar kesepakatan dalam Perjanjian Moskow. Menurut Brooks fasilitas yang dibangun tersebut hanya untuk merawat dan memelihara senjata nuklir yang sudah ada saja.
Pada era pemerintahan Presiden Bill Clinton, budget pengeluaran untuk
persenjataan nuklir Amerika mencapai angka yang paling rendah dan tak ada percobaan nuklir yang dilakukan. Dalam sebuah laporannya, majalah Atomic Scientist menyebutkan, badan atom Amerika hanya menghabiskan hari-harinya untuk merawat dan memelihara potensi nuklir yang mereka miliki, tanpa pengembangan sedikitpun.
Sebelum Perjanjian Moskow, Amerika Serikat mempunyai tak kurang dari 10.650 hulu ledak nuklir. Lewat perjanjian tersebut, jumlah nuklir Amerika berkurang menjadi hanya 2.200 hulu ledak saja. Memasuki tahun 2012 nuklir Amerika diharapkan hanya 1.700 hulu ledak saja. Tapi sepertinya, rencana tersebut akan gagal total di bawah pemerintahan George Bush yang mencoba membangun kembali, bahkan lebih besar fasilitas nuklir yang dimiliki oleh Amerika.
Penandatanganan izin proyek nuklir pertama terjadi pada Januari tahun ini. Dalam kebijakan baru yang yang dikeluarkan oleh Departemen Pertahanan, Pentagon disebutkan, Amerika tak bisa hanya memelihara senjata nuklir dan melakukan balasan jika terjadi serangan. Tapi lebih jauh dari itu, militer Amerika harus membangun fasilitas nuklir untuk kebijakan pre-emptive, menyerang daripada diserang oleh negara-negara yang dianggap berbahaya.
Tak hanya membangun nuklir, Pentagon juga menyiapkan perangkat lain yakni pembangunan bunker nuklir untuk generasi mendatang. Anggota Senat Amerika di Komisi Pelayanan Persenjataan, awal Mei lalu menyetujui proposal penelitian senilai 15,5 juta dolar untuk persiapan pembangunan bunker anti nuklir.
Tak jelas sebesar apa potensi nuklir yang kini dimiliki oleh Amerika
Serikat. Namun, pada tahun 1999, Departemen Energi Amerika mengatakan bahwa Amerika saat itu mempunyai 12.000 plutonium yang tersimpan aman di Plantex, sebuah pabrik kimia yang berada di Amarillo, Texas. Tak hanya itu, disebutkan pula di lembaga penelitian Oak Ridge Reservation di Tennessee, sekitar 200 ton uranium telah diproduksi. Diperkirakan, Amerika saat ini memiliki lebih dari angka yang pernah tercatat dalam majalah Atomic Scientist pada tahun 1999 tersebut.
Terungkapnya Skandal Nuklir Israel dan Mordechai Vanunu

Irak yang tak jelas memiliki senjata pemusnah massal telah dihancurkan oleh Amerika. Iran dan Korea Utara kini tengah diincar. Sedangkan Israel yang sudah jelas-jelas punya senjata nuklir, tak disebut sedikitpun sebagai ancaman bagi dunia. Terungkapnya proyek nuklir AS, berawal dari keberanian seorang ilmuwan nuklir Israel yang kala itu masih berusia relatif muda. Ilmuwan muda ini sangat prihatin dengan potensi senjata nuklir yang dikembangkan negara Zionis itu.
Akhir April 2004 lalu, seorang tahanan yang telah disekap di dalam sel sempit selama 12 tahun dibebaskan. Tapi sebetulnya, laki-laki itu telah menghuni penjara Israel selama 18 tahun. Bahkan Guinness Book of World Record pernah menobatkan laki-laki ini menjadi pemegang rekor manusia paling lama yang terisolasi. Di adalah Mordechai Vanunu.
Mordechai Vanunu adalah ilmuwan nuklir Israel yang mengabarkan pada duniapada tahun 1986 bahwa negaranya sedang mengembangkan senjata nuklir. Tapi nahas, Mordechai Vanunu tak lama menikmati kebebasannya. 11 November lalu, ia kembali ditangkap oleh Shin Bet, polisi rahasia Israel dengan alasan keamanan nasional. Vanunu kembali dijebloskan ke dalam penjara.
Shin Bet dan pemerintah Israel memang ketar-ketir dengan masa tahananVanunu yang habis. Meski telah belasan tahun mendekam dan menjalani berbagai siksaan di penjara, ingatannya masih kuat untuk menceritakan pada dunia, bahwa negaranya, Israel menyimpan bahaya maha dahsyat.
Kisah terungkapnya fasilitas nuklir Israel di Dimona, Gurun Negev berawal dari kegelisahan Mordechai Vanunu. Ia bukanlah ilmuwan nuklir senior Israel, tapi batinnya gelisah mengetahui ia bekerja di sebuah gedung, bertingkat enam lantai di bawah tanah yang berusaha mengembangkan senjata nuklir Israel.
Diam-diam ia merencanakan langkah-langkah untuk mengabarkan hal itu pada teman-teman dekatnya. Tapi kabar terus bergulir dan tak berhenti sebatas cerita mulut ke mulut di antara teman. Mordechai Vanunu merencanakan langkah yang lebih besar.
Dengan tekad yang sudah ia matangkan, suatu hari ia berniat memotret seluruh pemandangan di dalam laboratorium nuklir tempatnya bekerja. Meski Vanunu hanyalah seorang ilmuwan junior yang tugasnya hanya mengawasi panel-panel dan angka-angka, ia tahu apa yang dilakukannya pastilah berbahaya. Untuk itu, ia menghubungi sahabatnya, seorang jurnalis dari The Sunday Times, Inggris, Peter Hounam.
Mordechai Vanunu bertugas menguak rahasia nuklir Israel dan Peter Hounam kebagian mengabarkan rahasia itu pada publik lewat koran tempatnya bekerja.
Kala itu, tahun 1986 Israel telah mengembangkan tak kurang dari 200 unit hulu ledak nuklir. Bayangkan saja, berapa unit yang kini telah dibuat oleh negara Yahudi ini.
Vanunu baru berusia 22 tahun saat ia bekerja di instalasi nuklir di Dimona. Bangunan ini terletak di tengah gurun Negev, padang pasiryang dikeruk sedalam enam tingkat untuk dijadikan laboratorium nuklir. Vanunu memperkirakan, tempatnya bekerja memproduksi 10 unit nuklir setiap tahunnya. Ia merasa, Israel tak membutuhkan itu semua. Satu-satunya alasan kenapa nuklir itu dibuat adalah untuk berperang melawan dunia Arab. Dan itu yang membuatnya tak setuju.
Dan di hari itu, Vanunu menyelinap dengan kameranya dan mengambil gambar lebih dari 50 foto. Berbekal sedikit uang dan dua buah rol film penting berisi gambar-gambar pusat pengembangan nuklir Israel, Vanunu terbang ke Inggris dan berbagi rahasia dengan sahabatnya, Peter Hounam.
Dalam tulisan sebelumnya dikisahkan bagaimana seorang ilmuwan muda Israel bernama Mordechai Vanunu, terdorong untuk memberitakan pada dunia tentang betapa berbahaya program nuklir yang sedang dikembangkan Israel. Setelah berhasil mengumpulkan bukti-bukti, Vanunu terbang ke Inggris untuk bertemu dengan Peter Hounam, seorang jurnalis dari surat kabar The Sunday Times yang akan menuliskan hasil penemuan Vanunu di koran tempatnya bekerja.
Di Inggris, Vanunu berdiam diri hampir selama setahun, sebelum memproses berita dan foto-foto yang ia miliki. Di dalam kepalanya, berbagai skenario perburuan akan dilakukan oleh Mossad, dinas rahasia Israel. Tapi nyatanya, ia seolah tak diburu oleh siapapun. Dan itu membuatnya lengah.
Dalam sebuah film dokumenter yang berjudul CIA The Shocking Story Behind the Headline, seorang mantan pejabat Mossad mengatakan, bahwa hal tersebut memang disengaja. Menurut pejabat yang identitasnya disembunyikan ini, untuk seorang seperti Mordechai Vanunu, sangatlah mustahil bisa membawa rahasia negara sepenting nuklir keluar tanpa diketahui. Dengan cara seperti itu, pejabat Mossad tersebut menerangkan, diharapkan dunia akan mengetahui, khususnya negara-negara di jazirah Arab, bahwa Israel tak main-main dengan masalah keamanannya.
Sementara itu, Vanunu yang mulai bosan, menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan di kota London. Tanpa sepengetahuannya, agen-agen Mossad telah bekerja menyusun rencana.
Dan suatu hari, ketika Mordechai Vanunu berjalan-jalan dan memesan minuman di kedai kopi, ia bertemu dengan seorang perempuan, mengaku bernama Cindy. Pada Vanunu, Cindy bercerita bahwa dirinya adalah seorang ahli kecantikan dari Amerika yang sedang berlibur ke Eropa. Tak makan waktu lama, keduanya langsung akrab. Fakta bahwa dirinya yang mendekati Cindy terlebih dulu, membuat Vanunu merasa aman.
Pada Peter Hounam Vanunu bercerita ia bertemu dengan seorang perempuan luar biasa di kedai kopi hari itu. Sang sahabat sempat memperingatkan, “Hati-hati, siapa tahu ia agen Mossad.” Namun sejak itu, Vanunu sering kali bertemu Cindy secara diam-diam.
Benar saja, ternyata Cindy adalah agen Mossad yang menjadi umpan. Dan Vanunu, sudah nyaris dalam genggaman. Tapi Vanunu yang tak sadar, pada Peter Houman mengatakan, jangan terlalu paranoid, semuanya wajar saja.
Vanunu dan Cindy memang langsung akrab dalam beberapa hari. Mereka saling mengunjungi, pergi ke bioskop bersama dan melakukan banyak hal berdua. Dan itu hanya butuh waktu enam hari bagi Cindy untuk menaklukkan Vanunu. Di akhir pekan, Cindy mengajukan usul agar mereka pergi ke Roma dan menghabiskan minggu di ranjang, di apartemen milik adik Cindy. Dan Vanunu pun bersedia. Ia masih juga tak sadar bahwa perangkap sedang menganga untuknya.
Dan benar saja, sesampainya di Roma, ketika hendak masuk apartemen, Vanunu ditangkap oleh dua orang agen Mossad. Ia di borgol. Disuntik dengan sedatif, dibungkus dengan karung dan dibawa ke tepi pantai. Di pantai, telah menunggu perahu kecil yang siap membawa Vanunu ke sebuah kapal Israel yang berjaga di lepas pantai berjaral 12 mil. Vanunu pun menghilang.
“Revealed: the Secret of Israel’s Nuclear Arsenal”

Lima hari setelah Vanunu menghilang, Peter Hounam menerbitkan berita besar untuk korannya, “Revealed: the Secret of Israel’s Nuclear Arsenal”, begitu judul berita yang diturunkan di halaman depan The Sunday Times, 5 Oktober 1986. Vanunu sendiri, ketika sadar dan terbangun, telah berada di meja interograsi intelejen Israel.
Kala itu, Shimon Peres yang masih menjadi Menteri Luar Negeri Israel membantah berita yang diturunkan oleh The Sunday Times. Di berbagai stasiun televisi ia mengatakan, “Israel tidak akan menjadi negara pertama yang memperkenalkan nuklir di Timur Tengah.”
Selama minggu Vanunu hilang kabar, sampai kemudian Perdana Menteri Israel, Yitzhak Shamir mengumumkan bahwa Vanunu telah ditangkap dan sedang menghadapi tuntutan pengkhianatan dan spionase melawan Israel.
Persidangan Mordechai Vanunu dilakukan tertutup dan sangat rahasia. Polisi rahasia Israel berganti-ganti skenario membawa dan memindahkan Vanunu menuju pengadilan. Yang menjadi pertanyaan bagi Peter Hounam adalah, bagaimana Vanunu bisa ditangkap dan masuk ke penjara Israel?
Di penghujung tahun, bulan Desember, saat Vanunu menuju gedung pengadilan, ia menuliskan pesan di telapak tangan kirinya yang ditempelkan ke jendela mobil. Foto Vanunu dengan tangan bertuliskan bahwa dirinya diculik dari Roma dengan nomor penerbangan menjadi foto yang dramatis kala itu. Dan hal itu membuat Mossad marah besar. Sejak itu berbagai cara digunakan untuk menghalangi Mordechai Vanunu menyampaikan pesan. Mulai dari pemakaian helm teropong, pengecatan kaca mobil tahanan sampai suara sirine yang berdengung kencang untuk meredam teriakan Vanunu.
Tapi bagi Peter Hounam petunjuk kecil di tangan Vanunu sudah cukup menyingkap misteri. Nomor penerbangan dari Roma tersebut adalah titik terang. Diam-diam ia melacak kisah penculikan Vanunu yang membocorkan rahasia nuklir itu. Ditelusurinya satu persatu petunjuk sampai ia dapatkan nama seorang perempuan yang duduk di sebelah Mordechai Vanunu.
Ia mendapatkan nama C. Hanin, nama perempuan yang duduk di samping Vanunu. Maka Peter Hounam yakin, bahwa huruf C di depan nama Hanin itu adalah singkatan dari Cindy. Tapi nama sebetulnya bukan Hanin, dan juga bukan Cindy. Nama agen Mossad tersebul adalah Cheryl Bentov isteri seorang pejabat tinggi Mossad.
Berbekal tekad yang kuat, ia melacak Cheryl Bentov hingga ke rumahnya. Peter Hounam butuh waktu hampir setahun untuk menemukan rumah Cheryl Bentov di Netanya, Israel. Suatu hari, setelah menyiapkan berbagai bekal Peter Hounam akhirnya memberanikan diri mendatangi Cheryl Bentov di rumahnya.
Dan benar saja, ia berhasil menemui Cheryl Bentov di rumahnya. Tapi perempuan intel tersebut menolak diwawancara dan membanting pintu. Syukurnya, Peter Hounam berhasil mencuri foto Cheryl Bentov saat meninggalkan ruangan. Dan sejak saat itu, ketika fotonya terpampang di media massa, karir intelijen Cheryl Bentov di Mossad, berakhir sudah.
Mordechai Vanunu akhirnya divonis 18 tahun penjara. 12 tahun di antaranya harus ia habiskan di dalam sel isolasi kecil, tanpa manusia lain, penuh dengan siksaan dan itu membuatnya nyaris gila. Peter Hounam sendiri merasa heran, ia tak disentuh oleh Israel sedikit pun. Ia hanya diminta menjadi saksi dan membeberkan bukti, sesungguhnya yang sedang dilakukan oleh Mordechai Vanunu adalah aksi untuk menyelamatkan dunia.
Sedangkan Israel sendiri, hilang dari wacana internasional. Inspeksi tenaga atom milik PBB tak pernah menyebut-sebut nuklir yang jelas-jelas dimiliki oleh negara yang doyan perang itu. Sedangkan Amerika, tak pernah memasukkan negara Zionis tersebut sebagai ancaman, apalagi sebagai target yang mesti dimusnahkan. Alih-alih menjadi target, kemenangan George W Bush untuk kedua kalinya malah menjadi semacam penanda, bahwa Zionis kian menggurita dalam negara adidaya tersebut.
Vanunu Kembali ke Bui

Setelah menjalani masa hukumannya selama 12 tahun di penjara Israel, pada akhir April 2004, Mordechai Vanunu dibebaskan. Tapi ternyata ia tak bisa lama menikmati kebebasannya. Hanya dalam waktu kurang dari delapan bulan, Shin Bet, polisi rahasia Israel, atas perintah pemerintah menangkapnya kembali. Padahal, sebelum ditangkap Vanunu tak bisa juga disebut bebas sepenuhnya. Ia harus tinggal di sebuah apartemen yang dijaga, tak boleh melakukan pembicaraan dengan orang asing atau wartawan, dan tak boleh keluar dari Israel dalam waktu yang tak pernah ditentukan.
Vanunu, yang kini berusia 50 tahun, ditangkap di sebuah gereja di Jerussalem saat ia sedang beribadah. “Dia dicurigai membuka informasi rahasia pada pihak-pihak yang tidak berkompeten. Dia juga dicurigai telah melakukan pelanggaran atas pembebasannya,” ujar jurubicara kepolisian Israel, Gil Kleiman.
Apa yang dibongkar oleh Vanunu? Sebenarnya sudah tidak ada lagi. Semua rahasia tentang nuklir Israel telah ia buka 18 tahun silam. Tapi pemerintah Israel mencurigai ia mendapat informasi baru yang jika dibuka akan membahayakan posisi pemerintah Israel.
Ketidakadilan yang dirasakan oleh Vanunu berniatnya meninggalkan Israel. Tapi pengadilan tinggi Israel tak mengizinkannya meninggalkan negara Yahudi tersebut. Vanunu juga telah mengirimkan surat ke pemerintahan Swedia untuk mendapatkan suaka politik. Tapi lobi Yahudi terlalu kuat untuk membuatnya berhasil mendapatkan suaka politik.
“Saya tidak suka dengan Israel. Saya tidak ingin hidup di Israel. Saya ingin bebas dan pergi meninggalkan negeri ini,” ujar Vanunu kepada media saat penangkapannya.
Menurut Mordechai Vanunu, sejak peristiwa pembongkaran rahasia nuklir tahun 1986 itu, Israel tak lagi menghargainya sebagai seorang manusia.
“Israel menganggap saya sebagai seorang pengkhianat, dan sejak itu saya tidak pernah dihargai lagi. Kebebasan menyatakan pendapat dan bicara saya dilarang dan kemerdekaan saya untuk bergerak pun dikekang,” ungkap Vanunu.
Karena itu pula, ia berniat untuk mencari kewarganegaraan yang baru, jika bebas untuk kedua kalinya, nanti. Salah satu negara yang ia harap mau mengakuinya sebagai warga negara adalah Palestina.
Mordechai Vanunu: “Israel Negara Paling Kejam”

Democracy Now! sebuah program radio dan televisi yang siaran di Amerika Serikat berhasil melakukan wawancara panjang dengan Mordechai Vanunu sebelum penangkapannya kembali. Dalam wawancara tersebut, Vanunu berbicara blak-blakan tentang bahaya dan ancaman Israel bagi dunia internasional, terutama Timur Tengah. Berikut petikannya.
Pemerintah Israel menyebut Anda sebagai seorang pengkhianat. Bagaimana tanggapan Anda?

Ketika saya keluar dari penjara, saya katakan berulang kali bahwa saya sangat bangga dan bahagia telah mengungkap rahasia nuklir Israel pada dunia. Tapi saya bukanlah seorang pengkhianat. Pengkhianat yang sesungguhnya adalah pemerintah Israel yang berada di belakang kebijakan pengembangan nuklir selama 40 tahun terakhir. Mereka telah mengkhianati warga Israel, komunitas Arab dan seluruh manusia di muka bumi. Israel pengkhianat yang sesungguhnya.
Menurut Anda, rahasia apa yang paling signifikan yang telah Anda buka?

Telah sangat jelas dan terbuka saat saya mengungkapkannya pada terbitan The Sunday Times tahun 1986 silam. Dari informasi tersebut Anda bisa mengetahui senjata nuklir yang dibuat Israel, berapa jumlahnya, tak seorang pun bisa memperkirakan dan mengetahuinya. Termasuk CIA yang hanya memperkirakan angka 10 sampai 15 saja. Dan saat informasi saya keluar, saya menyebut 150 sampai 200 senjata nuklir yang dimiliki Israel.
Yang kedua, tidak ada yang mengetahui bahwa saat ini Israel sedang
membangun dan mengembangan bom hydrogen. Sebuah bom yang lebih besar dan lebih berbahaya dari bom atom. Satu bom ini bisa membunuh jutaan manusia. Semua itu adalah berita sangat penting yang pernah saya bawa untuk dunia.
Bagaimana Anda dapat mengetahui hal ini?

Saya tahu karena saya bekerja di tempat bom-bom itu dibuat. Bangunan tempat saya bekerja bertugas membuat bahan-bahan untuk senjata nuklir. Tugas saya waktu itu adalah mengolah plutonium untuk bahan pembuatan bom atom. Saya tahu betul berapa banyak mereka membuatnya setiap hari. Setiap tahun.
Mereka juga membuat apa yang dinamakan Lithium-6 dan Tritium. Saya bekerja dengan sesuatu yang berhubungan dengan bom hydrogen. Saya juga telah mengambil foto bagian dari bom tersebut dari bangunan yang lain. Ini semua berarti bahwa Israel telah siap menggunakan bom-bom tersebut pada perang yang akan datang. Dan ini sangat berbahaya untuk komunitas Arab. Karena Israel akan menggunakan bom yang tak pernah digunakan negara lain di jazirah ini.
Jadi mereka juga membuat bom neutron dan bom hydrogen?

Ya.
Apa yang bisa Israel lakukan sepanjang 18 tahun sejak Anda dipenjara?

Saya sama sekali tidak tahu. Kita hanya bisa berasumsi bahwa kemampuan mereka bisa jauh lebih tinggi dan besar dengan teknologi dan komputer yang sudah sangat berkembang. Tapi saya hanya berasumsi. Saya tidak memiliki informasi baru sejak 18 tahun yang lalu.
Bisa tolong dijelaskan apa maksud Anda dengan membawa foto dan informasi tentang Dimona?

Saat saya bekerja di Dimona pada tahun 1980-an, saya telah memutuskan harus membawa informasi yang saya miliki kepada dunia luas. Karena Israel telah berdusta, curang dan karena itu tidak satupun yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Jadi saya mengumpulkan semua informasi dalam kepala saya, dalam pikiran saya. Saya bekerja setiap hari di sana untuk mengumpulkan informasi dengan detil. Yang saya butuhkan adalah sebuah bukti, lalu saya menyiapkan pengambilan foto. Lalu saya menyelundupkan sebuah kamera ke dalam bangunan Dimona dan saya mengambil lebih 50 foto dalam dua roll film saat shift malam atau hari Sabtu, ketika bangunan sepi. Tapi sampai beberapa lama saya tidak memproses foto tersebut. Karena jika ketahuan, Shin Bet akan menangkap saya.
Yang saya butuhkan adalah, saya harus keluar dari Israel dan mengungkap semua informasi tersebut. Tadinya saya berniat akan membukanya di Amerika Serikat. Tapi dalam perjalanan ke Amerika saya bertemu dengan seorang teman yang membawa saya ke The Sunday Times di London. Lalu saya berikan pada mereka cerita dan foto tentang nuklir Israel.

Tapi bagaimana kisah penangkapan Anda yang sesungguhnya?

Sebelumnya mereka tidak melacak saya. Saat mereka mendengar tentang berita ini dan tentang apa yang saya lakukan di London, dua agen Mossad melacak saya sampai ke Sidney, Australia, tempat saya bertemu pertama kali dengan Peter Hounam. Dari sana mereka terus melacak saya. Lalu mereka memutuskan untuk menculik saya. Tapi mereka ingin penculikan tersebut tidak terjadi di London, tapi di Roma. Lalu mereka mengirim seorang agen perempuan berwarga negara Amerika yang bekerja untuk organisasi rahasia Israel. Dia menjebak saya. Saya telah diculik.
Sesampai di Israel mereka memaksa saya tidak boleh berbicara tentang
penculikan. Saya hanya boleh bicara tentang rahasia yang telah saya
bongkar saja. Saya tidak terima, karena ini adalah kejahatan yang membuat saya menjadi korban.
Anda bisa cerita tentang perlakuan mereka di dalam penjara?

Shin Bet dan Mossad sangat marah dengan apa yang saya lakukan. Mereka ingin menghancurkan saya. Sejak awal mereka menempatkan saya pada sel isolasi selama tujuh minggu sejak penculikan saya dari Roma. Tidak ada orang yang tahu di mana dan kemana saya.
Selanjutnya, selama dua tahun saya di tempatkan di dalam ruangan yang sempit dengan lampu yang sangat terang lengkap dengan kamera pengintai selama 24 jam. Saya tidak bisa tidur kecuali sedikit selama dua tahun itu. Mereka berusaha untuk merusak syaraf-syaraf saya. Mereka juga menggunakan metode psikologi untuk mencuci otak saya.
Saya pernah meminta untuk bertemu seorang pendeta. Lalu Shin Bet membawa seorang pendeta. Tapi kami tidak diizinkan untuk bicara. Saya tidak boleh bicara pada dia, dan pendeta itu tidak boleh bicara pada saya. Kami berkomunikasi lewat tulisan di notes yang harus dibaca terlebih dulu oleh petugas Shin Bet. Kami tidak bisa bertemu sebagai seorang manusia.
Selama 11 tahun lebih saya berada dalam kondisi seperti itu di penjara
Askhelon. Hanya dua jam dalam sehari saya diizinkan berjalan di lapangan. Itu pun saya sendirian. Saya tidak boleh menggunakan telepon, berkirim surat pun harus disensor oleh Mossad. Bisa Anda bayangkan, di dalam penjara pun Israel menempatkan dinas rahasiannya.
Di mana tepatnya penjara Askhelon?

Askhelon berada sekitar 40 mil dari Tel Aviv atau 20 mil dari Dalia.
Bagaimana Anda bisa bertahan selama itu dalam kondisi yang sangat kejam?

Selama 12 tahun masa isolasi, sejak minggu pertama saya sudah berikrar bahwa saya sedang berperang melawan Shin Bet, Mossad dan juga Shabak. Mereka musuh saya sekarang. Mereka ingin menghancurkan saya, dan saya harus bertahan dari gempuran mereka. Saya harus survive.
Peta Pengembangan Nuklir di Berbagai Negara

Saat ini, di seluruh dunia tersebar 30.000 ribu lebih senjata nuklir. Dari angkat tersebut, 95% berada di Amerika Serikat dan Rusia. Perjanjian Bebas Nuklir yang dirancang pada tahun 1970 menyepakati pembatasan jumlah nuklir di dunia. Sampai saat ini perjanjian tersebut masih berlaku dan dimonitor langsung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Negara-negara yang terdaftar memiliki jumlah nuklir dan terus dipantau oleh kedua tim tersebut adalah Amerika Serikat, Rusia, Cina, Inggris, Prancis, Pakistan dan juga India.
Dalam daftar IAEA, Amerika memikili 10.500 pucuk senjata berhulu ledak nuklir. Rusia memiliki 20.000 hulu ledak, Cina 400 hulu ledak, Prancis 450 hulu ledak, Inggris 185 hulu ledak, India 65 hulu ledak dan Pakistan antara 40 sampai 50 hulu ledak.
Sementara itu, negara-negara seperti Israel dan Korea Utara adalah negara dengan potensi nuklir yang tak terkontrol oleh dua badan dunia tersebut. Israel disebut-sebut memiliki senjata nuklir 100 sampai 200 hulu ledak. Sedangkan Korea Utara diperkirakan baru mengembangkan satu sampai dua proyek nuklir awal.
Negara-negara lain yang dicurigai dan diancam oleh Amerika atas kegiatannya mengembangkan senjata nuklir adalah Aljazair, Suriah, Iran, Libya dan Irak. Terakhir, Irak yang sejak tahun 1970 mengembangkan senjata nuklirnya, sejak tahun 1990, pascaPerang Teluk, dipaksa takluk pada PBB atas desakan Amerika. Bahkan, kini sudah tak ada lagi pengembangan nuklir di Irak, setelah penyerangan terakhir yang dilakukan Amerika.
Selain negara yang tak terdaftar dan negara yang dicurigai mengembangkan senjata nuklir, ada pula daftar negara yang dilarang menyentuh teknologi ini. Negara-negara tersebut adalah; Belarusia, Ukraina, Kazakhstan, Argentina, Australia, Mesir, Brazil, Korea Selatan, Swiss, Rumania, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia, Taiwan dan Yugoslavia. Negara-negara tersebut masuk kategori haram menyentuh senjata nuklir, apalagi mengembangkan dan memakainya.
Dari daftar negara-negara yang tersebut di atas, hanya ada dua negara yang tak pernah diutak-atik oleh Amerika. Pertama adalah Rusia, tentu saja Amerika tak berani sembarangan terhadap negara yang pernah menjadi adikuasa di zaman Uni Soviet ini karena kekuatan dan daya tawarnya yang tinggi di mata dunia internasional. Negara kedua adalah Israel. Meski telah diketahui memiliki ratusan senjata berhulu ledak nuklir, Israel bisa tetap aman karena negara ini adalah sekutu sekaligus penjaga kepentingan Amerika Serikat di Timur Tengah. Selain kedua negara tersebut jangan harap akan hidup tanpa tekanan jika hendak mencicipi nuklir atau kecanggihan senjata pemusnah massal.
Proyek pengembangan senjata nuklir oleh Amerika tersebut dan Israel, sekali lagi, benar-benar membuktikan kediktatoran negara ini. Jika negara lain mengembangan nuklir, meski hanya satu, maka akan diburu hingga ditumpas. Di saat yang sama, Amerika sendiri mengembangan senjata penghancur ini dalam jumlah besar. Tak hanya satu, tapi dalam hitungan ribu. Lalu, bagaimana dengan Indonesia, kapankah akan memiliki kemampuan dan kekuatan yang sama?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar